Uncategorized

[Satu Foto Sejuta Cerita] A View From Sky Deck

Tempat itu tak ada dalam itinerary saya. Bahkan sejujurnya saya baru saja tahu tentang keberadaannya, itupun tanpa sengaja karena melihatnya bersinar terang di langit malam. Tepat satu hari setelah ulang tahun saya yang ke-30 saya memutuskan untuk mengunjunginya.

Momen ini yang bikin saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada KL Tower.

Tempat itu bernama : KL Tower alias Menara Kuala Lumpur. Bangunan dengan tinggi total 421 meter itu telah memikat saya sejak pertama melihatnya berpendar di tengah kabut asap. Dalam waktu semalam gambaran KL Tower itu membuat saya terobsesi hingga membuat saya mencari cara agar sisa waktu saya menjadi cukup untuk mengunjunginya. Ah, kok bisa-bisanya saya tak memasukkannya ke dalam itinerary saya?

Saya akhirnya berdiri di depan lift yang akan membawa saya ke atas tower setelah diwawancarai seorang petugas tentang kabut asap. Yes, waktu itu bulan September 2015, masalah kabut asap sedang menjadi hot issue antara Indonesia dan Malaysia, jadi bayangkan betapa stressnya saya ketika ditanya-tanya oleh warga Malaysia tentang masalah ini.

Setelah beberapa saat di dalam lift dan kepala yang mulai terasa pusing, akhirnya saya tiba di Skyline View. Kaca tebal yang menjadi pembatas berhasil menjinakkan rasa takut saya ketika melihat pemandangan 276 meter di bawah sana. Sedikit demi sedikit saya semakin mendekat ke kaca dan takjub melihat langit mendung dan puncak-puncak gedung yang diselimuti kabut asap. Setelah puas mengelilingi seluruh bagiannya, saya pun bersiap untuk tantangan berikutnya, yakni Sky Deck yang lebih tinggi 24 meter dari bagian Skyline View.

This slideshow requires JavaScript.

Mendung sudah sangat pekat ketika saya melangkah menuju Sky Deck yang strukturnya seperti balkon. Saya terpaksa merapat sejenak pada tembok karena merasakan sedikit kepanikan ketika melihat betapa terbukanya Sky Deck itu. Ketika rintik hujan mulai turun sedikit demi sedikit, saya tahu bahwa saya harus segera memberanikan diri mengabadikan pemandangan yang sangat luar biasa ini sebelum dievakuasi oleh petugas tower. Pengunjung tak boleh berada di area ini saat hujan karena ada begitu banyak potensi bahaya.  

Selangkah demi selangkah saya mulai mendekati kaca pembatas dan perlahan memberanikan diri menatap pemandangan di bawah yang nyaris hilang tertutup mendung dan kabut asap. Rasanya seperti ada di negeri misterius dengan hanya puncak-puncak atap bangunan yang muncul ke batas horison. Rasanya masih tak percaya bisa berdiri di ketinggian 300 meter, titik tertinggi yang dapat dikunjungi turis di menara tertinggi ke-7 di dunia. Saya mencoba mengabaikan semua rasa takut yang timbul dan mulai berjalan berkeliling serta mengabadikan setiap momen yang terlihat. Hujan yang turun semakin deras dan para pengunjung lain semuanya sudah kembali ke dalam gedung. Tinggal saya sendirian, bimbang apakah harus tetap di luar selama belum diusir petugas, atau ikut mengamankan diri ke dalam. Saya memutuskan bertahan sedikit lagi untuk mengendapkan semua hal ajaib ini dalam ingatan. Dan tak lama kemudian, seorang petugas berdiri di depan saya untuk menolong “pengunjung yang sendirian dan kebingungan ini” (alias : bandel).

This slideshow requires JavaScript.

Hujan yang turun semakin deras  membersihkan mendung dan asap dari langit Kuala Lumpur. Andai saja hujan itu juga bisa menghanyutkan segala mendung di hati saya. *mendadak curcol*

Ingin saya menunggu hingga hujan reda dan kembali lagi ke Sky Deck, tapi saya sudah tak punya banyak waktu lagi karena sore itu saya masih ingin ke Dataran Merdeka sebelum pulang ke Jakarta.  

Hampir enam tahun berlalu sejak hari itu dan saya baru terpikirkan untuk mencari tahu bangunan apa saja yang sempat terekam dalam foto-foto yang saya hasilkan. Ternyata dengan bantuan google maps, hampir semua bangunan bisa diketahui namanya. Penasaran? Cobain deh. Hihihihi..

Satu Foto Sejuta Cerita

[Satu Foto Sejuta Cerita] Diajak “Jumatan” di Phnom Penh

Perasaan gloomy sudah muncul saat saya membuka mata pagi itu. Hanya tinggal beberapa jam saja sebelum saya meninggalkan Kamboja, negeri yang selalu membuat saya betah. Mengapa waktu berlari begitu cepat ketika kita tak menginginkannya?

Saya segera beranjak dari tempat tidur sebelum kembali ingin terlelap. Agenda pertama saya adalah bertemu dengan Pak Kasmin di Warung Bali, lalu kami blusukan ke Phsar Kandal untuk makan bubur yang oleh orang –orang Indonesia dijuluki dengan nama partai terlarang. Kenapa? Karena katanya buburnya encer persis seperti bubur pada jaman resesi tahun 60an. Selain itu rasanya juga hambar jadi harus dimakan dengan ikan asin. Kapan-kapan saya tuliskan tentang bubur P*I itu deh.

Setelah berpisah  dengan Pak Kasmin di Warung Bali, saya melanjutkan perjalanan sendirian untuk menyimpan lebih banyak kenangan tentang Phnom Penh dalam memori kepala saya. Kemudian saya kembali ke hostel untuk mandi dan finalisasi packing. Menjelang jam 11 saya sudah pamitan dengan mbak-mbak cantik penjaga hostel dan berjalan kaki menuju Warung Bali. Masih ada cukup waktu untuk makan siang dan santai sejenak sebelum bertolak ke bandara sekitar pukul dua siang.

Warung Bali siang itu ternyata lumayan ramai hingga saya terpaksa mengungsi di meja pemiliknya. Sumber keramaian itu adalah beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang berkumpul. Rasanya senang banget mendengar hingar bingar dalam Bahasa Indonesia. Tak lama kemudian Pak Kasmin dan Pak Firdaos turun memakai baju koko dan sarung sambil membawa sajadah di pundak. Ternyata mereka mau berangkat Jumatan (yes, saya nggak ngeh hari itu adalah hari Jumat). Mereka lalu mengajak saya untuk ikutan Jumatan ke masjid. Saya awalnya agak ragu karena takut mengganggu mereka yang akan Sholat Jumat dan agak khawatir waktunya mepet untuk berangkat ke bandara. Tapi mereka dengan santai meyakinkan saya bahwa waktunya pasti cukup, dan ini adalah kesempatan saya melihat masjid dan merasakan Jumatan di kota Phnom Penh.

Saya bertanya lagi pada mereka, “Beneran nggak apa-apa Pak, kalau saya ikut kesana?” Dan mereka berdua menjawab dengan kompak, “Iya, gapapa. Tapi jangan senggol-senggol ya, kita udah pada wudhu nih.”

Dengan tuk-tuk langganan mereka, kami bertiga dan satu mahasiswa Indonesia berangkat menuju masjid (yang kala itu lokasinya masih begitu misterius bagi saya). Rasanya excited dan penasaran banget. Mereka yang mau Jumatan, saya yang kegirangan. Hahaha.. Rasa gloomy karena akan pulang sedikit tertutupi oleh rasa penasaran ini.

Ternyata masjidnya nggak terlalu jauh dari Warung Bali (yaaahhh padahal ngarepnya jauh). Lokasinya ada di Street 86 dengan akses utama dari Preah Monivong Boulevard. Nama masjidnya : Al-Serkal Mosque. Menurut Mbah Wiki, masjid ini adalah pemberian dari keluarga Al Serkal yang berasal dari Uni Emirat Arab pada tahun 1968. Masjid yang ada saat ini dibangun tahun 2014 dan diresmikan oleh Perdana Menteri Hun Sen pada 27 Maret 2015 untuk menggantikan bangunan masjid yang lama .

Ketika tuk-tuk kami tiba di halaman masjid, saya langsung tercengang. Waaah, masjidnya besar, bersih, dan megah banget. Padahal saya sempat berpikir masjidnya hanya sebesar masjid di kompleks rumah saya. Sebelum bergegas masuk untuk Jumatan, Pak Kasmin dan Pak Firdaos memberikan pesan-pesan supaya saya jangan sampai hilang. Hahaha.. Sebetulnya saya juga deg-degan sih, khawatir tak bisa menemukan mereka bertiga di antara ramainya jamaah siang itu.

My First “Woooowww”

Setelah ditinggal sendirian (bareng sopir tuk-tuk yang langsung rebahan mode ON), langkah pertama yang saya ambil adalah menuju  kerumunan manusia di sekitar tukang roti canai. Bapak penjualnya sangat ramah dan bisa cakap Melayu pula. Saya memesan banana pancake karena waktu itu belum sempat makan siang. Lalu saya beranjak mencari spot foto yang paling oke. Jangan harap bisa dapat foto masjid yang clear karena siang itu banyak kendaraan parkir di halamannya.

This slideshow requires JavaScript.

Rasanya baru sebentar saja saya foto-foto dan mengelilingi bagian depan masjid, tiba-tiba dari arah pintu depan masjid terlihat rombongan jamaah yang keluar. Ah, ternyata Jumatan sudah selesai. Saya mengambil beberapa foto terakhir dan berjalan santai menuju tuk-tuk yang (rasanya) parkir dekat tukang roti canai. Ternyata mereka berempat sedang menjulurkan leher mencari saya. Ups.. maafkan daku Pak Bapak. Langsung deh saya diinterogasi soalnya mereka khawatir saya diculik. Jiaaaahhh..

This slideshow requires JavaScript.

Tak berapa jauh dari masjid ada penjual sop kambing halal. Kami pun mampir disana menikmati hangatnya sop kambing saat mendung menggelap dan hujan mulai turun. Rasa gloomy kembali muncul karena sebentar lagi saya harus pulang. Hiks..

Hingga hari ini saya selalu bersyukur setiap mengingat pengalaman itu. Jika waktu itu tidak diajak Jumatan oleh mereka, mungkin seumur-umur saya tak akan pernah menyaksikan kemegahan masjid terbesar di Kamboja itu.30 Juni 2017


Posting ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami,Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2021 minggu ke-7 bertemakan Mosque agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali.

Satu Foto Sejuta Cerita

[Satu Foto Sejuta Cerita] Nyaris Tak Bisa Pulang

Buah durian terakhir sudah ludes kami makan. Saya mengambil potongan kulit durian, mengisinya dengan air, lalu meminum air itu. Konon katanya itu adalah cara yang ampuh untuk menghilangkan rasa mabuk durian. Saya sendiri sebetulnya sudah mabuk sejak durian pertama dibuka, meski tetap mencomot dua butir durian Pontianak yang  terkenal enak itu.

Acara makan durian itu sebetulnya momen perpisahan dengan teman-teman di Pontianak. Saya dan dua kawan saya akan pulang ke Jakarta malam itu. Perpisahan itu membuat saya berkaca-kaca karena itu adalah penugasan terakhir saya ke Pontianak. Meski telah meminum air Sungai Kapuas dan Sungai Melawi, dan diangkat anak oleh seorang keluarga dari pedalaman Serawai, namun ketika masa tugas berakhir saya tetap harus berpisah dengan mereka semua.

Dua jam sebelum jadwal take off pesawat, kami bertiga diantar menuju Bandara Soepadio. Ada rasa lega karena seluruh tugas telah terlaksana lumayan lancar, apalagi bersama dua orang hebat di samping saya.

Sekitar lebih dari separuh jalan menuju bandara, saya tergerak untuk mengeluarkan handphone dan terkejut ketika melihat ada sebuah SMS dari call centernya Garuda : penerbangan kami dibatalkan. Jrengggggg…  Ketika saya membacakan isi SMS itu, gegerlah seisi mobil. Serius nih? Jangan-jangan ini SMS dari orang iseng. Saya sampai mengecek lagi nama pengirimnya dan memang betul itu dari call center Garuda.

Salah seorang kawan meminta saya menelepon call center untuk memastikan informasi itu. dan jelaslah apa yang terjadi : runway Soepadio tergenang banjir sehingga hampir semua penerbangan delay atau dibatalkan. Pesawat kami termasuk yang dibatalkan. Tak ada yang tahu kapan bandara akan dibuka dan penerbangan akan normal kembali. Lantas bagaimana? Para pengantar memutuskan agar kami tetap ke bandara dulu untuk memastikan kapan kami bisa pulang. Kami mendapat info juga dari kawan yang akan pulang dari Medan menuju Jakarta bahwa terjadi penumpukan penumpang di Medan untuk jurusan Pontianak. Jadi SMS itu memang serius bukan bohongan.

Ah, hujan memang turun terus menerus sejak kami tiba pada Sabtu pagi. Kadang lebat, kadang hanya rintik, namun langit hampir tak pernah cerah hingga jadwal kepulangan kami di hari Minggu malam. Kami tak pernah berpikir hujan rintik romantis itu bisa membuat kami gagal pulang ke Jakarta.

Tak banyak yang bisa dijanjikan oleh petugas di counter check in. Pastilah. Siapa yang bisa memprediksi alam? Kami waktu itu diberi dua opsi : mencari airlines lain atau bersabar menunggu schedule penerbangan Garuda yang akan berangkat di hari Senin. Jelas malam itu tidak ada pesawat yang berangkat sama sekali. Jika kami pindah airlines,  belum tentu kebagian schedule juga karena pasti sudah banyak penumpang yang terkena delay. Oke kami tak bisa mengambil opsi pertama karena terlalu beresiko. Opsi kedua bisa diambil jika dan hanya jika runway sudah kering pada Minggu malam atau Senin pagi. Dijadwalkan penerbangan pertama Garuda hari Senin adalah pada pukul 10 lewat sekian dan kami sudah tak kebagian seat untuk flight ini, jadi kami mendaftar untuk penerbangan berikutnya pukul 12 lewat sekian. Jika runway belum kering, kami akan dikabari lagi.

Setelah urusan di bandara selesai, kami diantar kembali ke kota Pontianak. Untung bisa booking hotel dalam perjalanan dan bisa langsung check in. Hari itu, Minggu, 12 November 2017 kami menjadi saksi sejarah tergenangnya runway Bandara Soepadio.

Untung saya sudah ambil cuti di hari Senin, untung kawan saya tak ada jadwal mengajar di hari Senin itu. Masalahnya ada di kawan saya yang satunya lagi. Bosnya akan datang pada Senin pagi dan dia harus stand by di kantor. Tapi mau bagaimana lagi? Kan bukan kami bertiga yang bikin runway Soepadio kebanjiran. Jadi kami bertiga hanya bisa ketawa-ketawa getir. Hilang sudah rencana bangun siang dan istirahat di rumah, sementara kawan saya harus menyusun berbagai rencana supaya bisa langsung kerja setibanya di Jakarta (plus mencari link berita resmi tentang kejadian ini untuk dikirimkan ke bossnya).

Karena sudah tak bisa mengupayakan apa-apa lagi, yang bisa kami lakukan adalah menikmati semalam lagi di Pontianak. Pada akhirnya saya merasa malam itu adalah bonus dari Semesta untuk tugas saya yang terakhir ini.

Setelah check in di hotel, saya dan kawan saya malah langsung meluncur cari oleh-oleh di sepanjang Jalan Patimura dan mampir ke Katedral St. Yoseph saat umat baru bubaran misa terakhir. Kapan lagi bisa menikmati Katedral yang terang benderang bermandikan cahaya bahkan bisa naik sampai ke balkonnya. Kapan lagi bisa nyari oleh-oleh tanpa berdesakan dan dikejar-kejar waktu. Hehehe..

Yeaaay.. Akhirnya bisa naik sampai balkon.

Keesokan paginya setelah misa pagi di Katedral dan sarapan sekenyang-kenyangnya di hotel, kami meluncur ke Rumah Radakng. Lalu kami menikmati Es Krim Angi yang menggunakan batok kelapa sebagai wadahnya. Ini sebetulnya wish list kawan saya sejak pertama ke Pontianak setahun sebelumnya dan nggak pernah kesampaian karena jadwal yang padat. Saya sendiri baru pernah kesana sekali pada bulan Agustus 2017 dan akhirnya bisa membawa kawan-kawan saya menikmati es krim legendaris ini. Nah di Es Krim Angi ini juga akhirnya kami bisa membeli caikue (choi pan) untuk dibawa pulang. Perut kenyang hatipun senang. Entah kawan-kawan saya happy atau nggak, tapi saya bisa melihat kejadian ini sebagai hiburan di akhir masa tugas saya. Apalagi ketika kami bisa pulang sesuai jadwal dan berhasil dapat izin dari petugas di bandara untuk memasukkan anggur kopi (entah betul atau ngga namanya) ke dalam kabin. Rasanya semakin bahagia.. hahaha..

Katedral Pontianak pada Senin pagi yang mendung, 13 November 2017.

Rumah Radakng 😍😍
Es Krim Angi. Juaraaak!!
Ada satu hal yang terbersit dalam pikiran saya ketika kami berangkat ke bandara siang itu (tapi nggak berani saya ceritakan pada kawan-kawan saya). Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada Maret 2017, saya nyaris mengalami momen “gagal pulang” karena pesawat saya dicancel keberangkatannya. Waktu itu opsinya adalah ikut penerbangan yang lebih pagi dengan maskapai yang sama atau pilih maskapai lain untuk bisa menyesuaikan jadwal saya. Saya memilih opsi kedua pada saat nyaris hilang sinyal di tengah-tengah Sungai Kayan. Dan momen itu terjadi lagi di Pontianak ini. Ada kesamaan pada kedua momen itu, yaitu kejadiannya terjadi setelah saya berkata “Tuhan, kok rasanya disini betahin banget ya.. Kok rasanya berat ya buat pulang..”. Nah kan, bisa pas begitu.

Alhasil setelahnya saya nggak pernah berani mengucapkan kalimat sakti itu lagi. Hehehe. Percaya deh, ucapan adalah doa!

I don’t want to say “Goodbye”, but let me say “Til we meet again”.


Posting ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami,Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2021 minggu ke-6 bertemakan Slipped agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali.

Uncategorized

[Satu Foto Sejuta Cerita] Kembali ke Yogyakarta

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu..”

Saya berdiri terpaku di ujung jalan Malioboro sore itu. Rasa terharu dan gembira bercampur di dalam dada, mengalahkan tubuh yang lelah usai mengelilingi Borobudur bersama hujan. Sudah lebih dari tiga belas tahun berlalu sejak hari-hari karyawisata itu. Sudah lebih dari tiga belas tahun pula sejak saya meninggalkan bangku SMP.

Dalam hati saya memanggil  nama sahabat-sahabat saya, “Apakah kalian masih ingat hari-hari itu?”

Kala itu kami adalah ABG yang baru melihat dunia. Hehehe. Momen yang paling kami tunggu dari karyawisata itu adalah saat malam tiba karena kami diberi waktu bebas tanpa diawasi guru. Tentu saja, kami semua ingin sekali berkeliling Malioboro. Bagi kami kala itu, Malioboro adalah tempat yang menarik, membuat penasaran, sekaligus menyeramkan. Bayangkan, selama tiga malam kami minta izin ke wali kelas kami, pasti beliau memberikan berderet-deret kalimat dengan “Awas” sebagai kata pembukanya.

Saya dengan enam sahabat saya hampir selalu jalan sama-sama, siang dan malam. Setiap malam kami mencegat becak dari depan penginapan di Jalan Prawirotaman. Untuk menuju ke Malioboro, kami melewati tukang peti mati di Jl. Katamso yang menjejerkan jualannya di pinggir jalan dan bikin saya selalu menutup mata setiap melaluinya.

Saya tersenyum mengingat kembali hari-hari yang menyenangkan itu sambil melangkah menuju keramaian Malioboro. Dulu tujuan terjauh kami hanya Malioboro Mall dan kami tak pernah menelusuri Malioboro dari ujung ke ujungnya.

Tanpa sadar kaki saya melangkah menuju Malioboro Mall dan terpaku di depan Mc. D yang ada di bagian depan mall. Kami bertujuh dulu pernah makan disana. Nggak nyangka Mc. D itu masih ada disana. Ah, tiba-tiba saja perjalanan ini berubah menjadi napak tilas ketika saya melangkah masuk, memesan makanan, dan merasa kesal karena tak bisa duduk di meja pojokan dekat jendela tempat kami makan dulu. Sambil makan saya mencoba mengingat apa yang kami obrolkan dulu di meja pojokan itu. Haha, yang saya ingat adalah momen saling bully dan saling cela yang hanya akan mereda kalau ada salah satu yang sudah berubah air mukanya.

Malioboro Mall, menjelang Natal 2013.

Usai makan, saya melangkahkan kaki menuju kios Dagadu di lantai bawah, persis seperti rute kami tiga belas tahun yang lalu. Waktu itu Dagadu lagi ngehits banget, tapi saya hanya bisa beli satu kaos saja dan kaos itu masih saya pakai hingga hari ini. Bahkan saya masih menyimpan bonus pembatas bukunya. Di depan kios Dagadu ada Gramedia, dan kala itu saya menghilangkan diri saya di depan Gramedia itu ketika merasa begitu lelah dengan sahabat-sahabat saya yang hanya peduli dengan pasangan mereka masing-masing. Hahaha, I was so childish. Saya memisahkan diri dari mereka dan bergabung dengan kelompok lainnya yang sudah mau pulang duluan ke penginapan. Saya nggak menyangka sahabat saya semuanya panik mencari (ya iyalah..), tapi yang paling bikin saya surprise adalah karena ada satu orang (gebetan saya waktu itu) yang katanya paling kebat-kebit. Setelah sekian tahun berlalu saya baru sadar, kepanikannya dia bukan karena “rasa yang lain”, tapi karena mamanya dia berteman lumayan akrab dengan mami saya. Hehehe.. Tapi waktu itu kok rasanya malah berbunga-bunga ya dipanikin dia. *Ku jahaaaattt…

Saya keluar dari Mall saat langit sudah gelap dan memutuskan untuk jalan kaki ke penginapan sambil menikmati keramaian di titik nol malam itu. Tak terhitung banyaknya tukang becak yang menawarkan jasanya. Tiga belas tahun lalu saya, sahabat saya, dan pacarnya pernah menyiksa seorang bapak tukang becak. Saking ngirit kami naik becak bertigaan dan ketika sampai di Malioboro, si bapak menuding saya sambil bilang, “Beratnya 90 kilo ya?”. Ledekan itu terus diungkit sampai kami lulus SMP, dan kini bahkan ingatan saya sendiri yang mengungkitnya.

Karena perjalanan itu sudah berubah menjadi napak tilas, keesokan harinya saya mengunjungi Museum Benteng Vredeburg yang dulu jadi salah satu objek karyawisata. Dan Semesta membuat perjalanan napak tilas itu menjadi sebuah kejutan. Di Museum Benteng ini saya malah bertemu rombongan karyawisata dari SMP saya. Saya berjumpa dengan salah satu guru saya yang kini udah hampir pensiun. Terharu banget karena beliau masih ingat saya dan terharu juga ketika bertemu guru olah raga dan pembina OSIS kami dulu yang kini tampak begitu tua, meski masih tetap galak seperti dulu. Ah, rasanya saya ingin gabung naik bus mereka dan ikutan karyawisata. Hahaha..

Di titik nol Malioboro saya kembali berdiri sendiri dan berandai-andai. Kalau waktu bisa diputar ulang ke saat itu dan saya berdiri di titik ini dengan sahabat-sahabat saya, apa yang akan saya katakan pada mereka ya?

“Walau kini engkau telah tiada tak kembali, namun kotamu hadirkan senyummu abadi.”


Posting ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami,Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2021 minggu ke-5 bertemakan Napak Tilas agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali.

Satu Foto Sejuta Cerita

[Satu Foto Sejuta Cerita] Kembali Ke Bangkok

Setiap hendak mengakhiri suatu perjalanan, saya selalu memutar ulang apa yang telah terjadi sepanjang perjalanan itu. Biasanya saya melakukannya di moda transportasi pertama yang saya naiki ketika hendak pulang :  ketika pesawat sedang taxi ke runway dan bersiap lepas landas, ketika kereta akan meninggalkan stasiun, atau ketika bus yang saya naiki hendak meninggalkan terminal. Kadang momen itu tak berlangsung lama karena saya terlelap saking lelahnya. Tapi tak jarang juga momen itu berlangsung lama, membuat saya melek sepanjang jalan, bahkan berkaca-kaca sambil melihat pemandangan di balik jendela.

Begitu juga Sabtu siang itu, 28 April 2012.

Rasanya saya masih tak percaya dengan apa yang terjadi selama lima hari ke belakang. Pada Senin siang tiba-tiba saya dikabari akan mendapat tugas ke Bangkok bersama seorang bos dari head office, seseorang yang menginterview saya waktu melamar kerja. Hari Selasa kami berangkat ke Bangkok dan saya penuh dengan ketegangan. Hari Rabu kami menghadapi customer yang complain dan ke pelabuhan untuk melihat produk yang mereka keluhkan. Semua itu bisa kami selesaikan hanya dalam waktu setengah hari. Siangnya si bos mengajak saya shopping ke MBK, malamnya saya diajak dinner cruise menyusuri Chao Phraya. Sejak hari Kamis saya “dilepas” untuk jalan sendiri.  Saya tersenyum lebar, mengapresiasi diri saya untuk pengalaman perdana saya jadi solo traveller (walau saya berani karena ada si bos di kota yang sama). Saya bisa berkenalan dengan banyak orang baru, melihat kesibukan Bangkok di sekitaran National Stadium, jalan sejauh kaki kuat melangkah (sambil parno karena diikutin orang aneh), ikut tour ke Grand Palace, Wat Traimit, Wat Pho, dan Wat Benchanabophit, juga pengalaman yang paling tak terlupakan : nyaris kehilangan kamera gara-gara tertinggal di bus travel.

Ah, kok saya jadi jatuh cinta pada Bangkok ya? Dengan bangunan-bangunan cantiknya, dengan senyuman orang-orangnya, dengan pemandangan malam yang indah di sepanjang Chao Phraya, dengan kisah raja-rajanya, dan banyak sekali yang membuat saya ingin kembali sebagai turis beneran yang nggak harus khawatir dengan pelanggan yang complain. Bangkok adalah kota pertama yang menjadi guru saya untuk travelling sendirian. Bangkok juga yang sudah melahirkan rasa percaya diri saya.

Saya merasakan pesawat menambah kecepatannya dan hendak lepas landas. Saya selalu memejamkan mata pada momen ini karena bisa mengurangi rasa tegang dan rasa excited yang muncul pada saat bersamaan. Sesaat sebelum pesawat lepas landas, saya menoleh pada si bos yang duduk tepat di sebelah saya, mendadak ingin tertawa kala selintas pikiran jahil muncul di benak saya, “Si bos kenapa kelihatan ganteng yak?”

Kala pesawat menembus langit Bangkok saya memejamkan mata dan berucap dalam hati, “Saya akan kembali lagi ke sini!”.


Ucapan itu ternyata menjadi doa. Doa itu menghantar pada berbagai upaya untuk mencapainya. Pada pertengahan tahun 2013, seorang kawan mengabari bahwa ada promo pesawat Tiger rute Jakarta – Bangkok, tiket pulang Rp. 0. Saya kebagian juga promo ini dan langsung beli dua tiket buat saya dan papi untuk keberangkatan Januari 2014. Setelah nyaris batal karena banjir Jakarta, demo Bangkok Shut Down, dan mami yang terkena bell’s palsy, kami tetap nekad berangkat dan mendarat di Suvarnabhumi International Airport pada 12 Januari 2014, dua tahun kurang dua bulan setelah keberangkatan saya bersama si bos. Pesawat yang kami tumpangi tidak penuh, mungkin karena banjir, mungkin juga karena situasi Bangkok yang dikabarkan memanas di berita-berita.

Karena pernah “dilepas liar” sendiri di Bangkok, saya lumayan pede jadi guidenya papi (siapa tahu nanti bisa jadi tour guide beneran kan?) dan jadi pede juga untuk baca peta (walaupun endingnya minta si papi pake kacamata untuk ikutan baca peta juga). Saya betul-betul harus sungkem ke si bos deh. Bahkan waktu si bos tahu saya mau backpackeran ke Bangkok sama papi, berkali-kali dia telpon tanya kesiapan saya plus ngasih berbagai rekomendasi yang jelas kagak cocok buat saya yang model kere begini 🤣.

Sebetulnya ada ambisi pribadi yang tersembunyi dalam keberangkatan kedua ini, banyak banget wish listnya dan sebagian bisa tercapai :

Naik bus umum di Bangkok. Saya punya obsesi gila ingin naik bus umum di Bangkok yang rutenya tertulis dalam aksara Thai. Jadilah kami nekad naik bus umum dari seberang Hua Lamphong ke Grand Palace. Walaupun diturunin di tengah pasar, hilang arah dan ga tau harus tanya siapa. Begitu sampai Grand Palacenya malah udah tutup. Ketika kami naik bus lagi pada pagi terakhir di Bangkok, kami sempat bingung kenapa tidak ada keneknya dan tidak perlu membayar ongkos bus. What a surprise!

Madame Tussauds : sedih banget kesini sendirian waktu pertama kali, apalagi jaman itu kagak punya hape yang bisa selfi. Selfi pake kamera pocket hasilnya cuma gelap doang karena lensanya ketutup telapak tangan. Sempat beberapa kali minta tolong petugasnya buat motretin tapi petugasnya sering ngilang banget, dah gitu waktu itu lagi sepi banget, jadi ga ada yang bisa dimintain tolong juga buat fotoin. Nah, kali ini karena berangkat sama papi jadinya bisa dapat foto narsis (dan konyol) lumayan puas, walaupun hasil fotonya banyak yang buram juga (hiks hiks hiks). Kami beruntung juga karena belum lama berselang setelah patung lilin Presiden Soekarno dipasang disini.

Pose paling nggak banget 😝. Trus saya baru ngeh mukanya Bang Beckham kenapa nyolot banget yak 🤭

Foto ini adalah impian saya selama dua tahun. Burem sih tapi ya.. lumayanlah.

Wat Pho : gara-gara kamera yang ketinggalan di bus travel, saya hanya bisa memotret dengan kamera hape yang kalau dizoom semuanya pecah. Begitu juga ketika di Wat Traimit. Akhirnya kali ini saya bisa puas memandangi wajah Buddha tidur di Wat Pho yang selalu memberikan rasa damai dalam hati. Di Wat Pho ini saya mencoba lagi memasukkan 108 koin ke dalam 108 mangkuk yang berderetan. Kala pertama kesini, dalam kondisi panik karena kamera yang lenyap, saya berhasil dengan sukses, tak kurang juga tak lebih. Katanya sih itu jadi penanda bahwa kondisi mental kita sedang baik (alias lagi fokus). Nah, pada percobaan kedua ini, kami berdua gagal. Koin saya masih sisa banyak saat tiba di mangkuk terakhir, sedangkan koin papi kurang beberapa. Walaaah, kami kan penasaran jadinya. Kami mengintip petugas yang memasukkan koin dan menemukan jawabannya : ternyata petugasnya memasukkan koin dengan rumus kira-kira, tanpa dihitung. Ya pantesan aja.

Ah.. wajah ini..

Sayangnya kami tak sempat ke Wat Traimit karena nggak keburu waktunya.

Melihat Wat Arun dari dekat : gara-gara pemandangan mistis Wat Arun saat malam, saya jadi penasaran banget dengan Wat Arun. Kami berhasil melihat Wat Arun dari dekat, sayang kami tak bisa naik karena kondisi papi yang nggak memungkinkan. Tapi itu saja sudah puas banget melihat berbagai warna keramik di dindingnya.

Chao Phraya cruise : Saya sadar, celengan saya nggak memungkinkan untuk ikutan dinner cruise di Yok Yor Marina lagi. Pasti mihil banget cuy. Jadinya saya dan papi ikutan naik kapal umum yang harganya terjangkau), tapi sayang karena waktunya mepet kami cuma bisa menikmati separonya Chao Phraya saja. Tapi kami puas banget ketika bisa menyaksikan pantulan matahari yang baru terbit di permukaan sungai ini dan menikmati suasana matahari terbenam di tepiannya.

Almost sunset

It’s our last morning in Bangkok

Kembali ke Grand Palace : inilah momen yang paling bahagia buat saya. Ketika pertama kali kesini saya dibuat kagum pada profesi tour guide karena Miss Cha yang memandu saya. Ia tak hanya sekedar memandu, tapi juga berbagi banyak kisah tentang Bangkok, tentang King Bhumibol, tentang Ramayana, tentang hasil pertanian Thailand, dan banyak sekali hal yang ia ceritakan dan membuat saya terkagum-kagum.

Butuh waktu lamaaaa banget supaya bisa menghasilkan foto ini tanpa ada manusia di dalamnya 😁

Grand Palace ini penuh dengan detail yang ingin saya perhatikan. Lukisan Ramayana di dindingnya, patung raksasa, garuda, naga, dan kinari, miniatur Angkor Wat, belum lagi berbagai macam bangunan dengan warna-warna yang berkilauan dan pintu-pintu tinggi yang indah, serta Emerald Buddha yang berganti baju setiap musimnya. Ah, rasanya saya ingin menceritakan semua yang diceritakan Miss Cha kepada papi.

Mencari buku King Bhumibol : gara-gara cerita Miss Cha tentang King Bhumibol yang luar biasa dan dicintai rakyatnya, saya jadi penasaran mencari buku tentang beliau ini. Saya berhasil menemukannya di sebuah toko buku di Suvarnabhumi ketika akan pulang ke Jakarta. Yeaaay, senang banget. Walaupun harus rela mengeluarkan kartu kredit untuk membayarnya.


Gelap sudah turun ketika pesawat kami hampir tinggal landas meninggalkan Bangkok. Meski tubuh begitu lelah namun pikiran saya sibuk memutar kembali segala yang terjadi dalam waktu satu minggu terakhir. Perjalanan ini bagai sebuah keajaiban. Bahkan kami sendiri tak menyangka bisa menyaksikan potongan sejarah bernama Bangkok Shut Down, berjalan di tengah para demonstran dengan jantung berdegup kencang. Saya kembali tersenyum mengapresiasi diri saya yang sudah berani mengajak papi backpackeran kesini, mengunjungi tempat-tempat istimewa, dan terutama memenuhi wish list saya sejak dua tahun yang lalu (teteeeupp…).

Ketika pesawat bergerak naik menembus langit, saya kembali berucap : “Saya ingin menaiki Wat Arun dan mengunjungi Sukhothai. Sampai hari ini, tujuh tahun sudah berlalu dan doa itu belum terkabul karena memang belum pernah diupayakan. Hehehe..

Udah ya.. Saya mau lanjut ngobrol dulu sama Teteh Oprah. 🤭🤭🤭🤭


Posting ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami,Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2021 minggu ke-4 bertemakan Fulfillment agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali.

Satu Foto Sejuta Cerita

[Satu Foto Sejuta Cerita] Rumah Oei

Perkenalan saya dengan Lasem berawal dari kisah yang unik. Ketika saya masih SD, saya dibelikan buku cerita rakyat dari Jawa Tengah. Di dalamnya ada kisah yang kurang lebih berjudul “Mengapa orang bermarga Han tidak berani tinggal di Lasem?” (Buat yang penasaran apa isi ceritanya, monggo tanya Mbah Google yak 😄).

Nah ketika papi membaca buku itu, beliau berkisah tentang kakak iparnya yang bermarga Han. Om Han ini asli Kediri, menikah dengan kakaknya papi dan menetap di Jakarta. Dulu waktu papi belum nikah, Om Han sering mengajak papi sebagai driver cadangan jika mereka sekeluarga menuju Jawa Timur. Om Han selalu berpesan supaya “Jangan lewat Lasem”. Tradisi itu sudah diwariskan turun-temurun dalam keluarga besarnya. Jadi papi bilang apa yang tertulis dalam cerita rakyat itu memang benar dan masih dipegang oleh mereka yang bermarga Han hingga kini.

Karena kisah itu kami sekeluarga jadi penasaran dengan Lasem, meski harus menunggu hingga bertahun-tahun kemudian untuk bisa menginjakkan kaki kesana. Itupun hanya untuk semalam saja. Ada sekian banyak tempat yang ada dalam list, namun justru lebih banyak kejutan dari tempat-tempat yang tak ada dalam list. Salah satunya Rumah Oei ini.

Kami menemukan rumah ini saat sedang makan nasi pecel di pinggir Jalan Jatirogo. Pintu kayu luarnya kala itu sedang tertutup, namun pemilik kafe di depannya menyuruh saya untuk masuk. Saat itu rumah ini tengah dipugar jadi bagian rumah utamanya ditutup dan saya hanya bisa foto-foto di halamannya saja.

Di dinding depan rumah ditempel sejarah Lasem dan sejarah Rumah Oei ini yang usianya sudah 203 tahun. Berawal dari Oei Am yang pada usia 15 tahun merantau dari China dan mendarat di Lasem hingga kisah keturunannya yang mungkin kini sudah lebih dari tujuh generasi.

Sekarang rumah ini menjadi tempat penginapan yang tetap dijaga heritagenya.

Oei atau Oey (dibaca Wie) adalah ejaan Bahasa Hokkien untuk “Huang” (Mandarin; artinya Kuning). Ada banyak cara pengucapannya dalam berbagai dialek dan bahasa yang berbeda : Huang (Mandarin), Wong (Hakka, Kanton, Wu), Ng (Tiochiu), dan berbagai versi lainnya. Ingat Wong Fei Hung (Huang Feihong) ? Nah ini salah satu tokoh terkenal marga Huang ini.

Huruf yang di tengah itu artinya “Huang”

Aduhh.. jadi kangen ingin kembali ke Lasem..


Posting ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami,Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2021 minggu ke-3 bertemakan Oriental agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali.

Satu Foto Sejuta Cerita

[Satu Foto Sejuta Cerita] Bangku Semen di Bawah Langit

Ketika mencari ide tentang kenyamanan untuk tema satu foto sejuta cerita minggu ini, saya berpikir tentang tempat (tak hanya tempat tidur) yang bisa membuat saya terlelap dengan cepat. Tapi ketika mengobrak-abrik isi laptop saya, akhirnya saya putuskan untuk memilih foto ini :

Sebelum saya lanjut berkisah, izinkan saya membuat klarifikasi. Saya tidak kenal dengan pria yang ada di dalam foto itu, dan saya juga gak berniat sengaja memotretnya. Tapi kalau ada yang kenal dengan si doi dan berniat mengenalkannya pada saya, tentu akan saya terima dengan senang hati 😜😜😜😛.

Foto ini diambil di tengah kesibukan Orchard Rd pada bulan November 2012. Kala itu dekorasi natal sudah dipasang dimana-mana dan begitu banyak turis yang berbaur dengan warga lokal menikmatinya. Saya sendirian duduk di salah satu bangkunya, mencoba larut dalam keceriaan itu sambil melarikan diri dari kenyataan.


Singapura.

Negeri ini menyimpan banyak sekali kisah bad mood saya. Termasuk yang saya rasakan petang itu. Sebetulnya saya tidak travelling sendirian namun bersama seorang teman kerja. Tapi pada akhirnya lebih baik kami pisah jalan daripada saya darah tinggi. Rugi banget udah beli tiket mahal-mahal tapi malah kesal. Ya kan?

Siang itu kami sepakat pisah jalan di China Town dan sorenya kami berpisah lagi di stasiun MRT Orchard. Saya mau menikmati Orchard dari ujung ke ujung, terserahlah dia mau kemana.

Ketika menemukan satu bangku yang kosong saya langsung duduk bersila (berasa di rumah sendiri 😂), lantas menulis jurnal untuk mengeluarkan unek-unek saya sebelum melanjutkan perjalanan. Saya sungguh merasa nyaman apalagi angin bertiup sepoi-sepoi. Ah, rasanya enak kalau goleran nih. Toh gak ada yg kenal kan? Tapi untungnya sebelum saya meluruskan badan, ada seorang oma yang mendekat. Saya bergeser supaya oma itu bisa duduk. Dalam keterbatasan bahasa kami pun bertukas cerita. Oma itu dan suaminya adalah warga Belanda. Mereka sedang dalam proyek keliling dunia. Wow.. Padahal si opa sudah memakai tongkat dan si oma juga agak susah berjalan, tapi mereka berdua semangat dan tampak happy banget. *jadi ngiri.. 😁

Tak lama kemudian, Oma dan Opa beranjak. Hujan mulai turun dan saya tambah happy. Saya menghabiskan sisa petang itu dengan keluar masuk toko menikmati berbagai jenis pohon dan ornamen Natal. Hihihi.

Pada titik itulah saya merasa bebas merdeka. Ketika saya kembali ke stasiun MRT ternyata teman saya tak beranjak kemana-mana. *untung aja saya nekad kabur 😂😂


Posting ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami,Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2021 minggu ke-2 bertemakan Comfort agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali.

Satu Foto Sejuta Cerita

[Satu Foto Sejuta Cerita] Cangkir Putih

Saya paling ogah banget dengan yang namanya meeting. Apalagi meeting di pabrik yang biasanya malah bikin darah tinggi.

Begitu juga dengan pagi itu. Saya lupa meeting apa hari itu, tapi saya ingat dengan teh hangat yang disajikan dalam cangkir putih. Resepsionis yang menyiapkan minum sudah hafal sekali bahwa saya tidak kuat minum kopi.

Ketika tehnya sudah habis, barulah saya sadar ada yang antik dengan cangkir itu. Bagian dalamnya penuh dengan retakan padahal bagian luarnya masih mulus. Tak akan ada yang menyangka di balik cangkir putih itu ada retakan-retakan yang rasanya akan membuatnya hancur berkeping-keping.

Retakan-retakan pada cangkir itu cukup menyita perhatian saya. Saya sudah tidak fokus lagi dengan apa isi meeting itu dan malah berpikir apa pesan yang sedang disampaikan Semesta pada saya lewat cangkir yang retak itu.

Kala itu saya memposting foto cangkir retak itu di Instagram sambil menambahkan sebuah quotes :

“A couple of times, I felt like I was cracking and I couldn’t go on, and God would put another person in my place to help me.” (Tara Kyle)

Ketika hari ini saya menemukan foto itu lagi, saya nyengir nyinyir melihat quotesnya karena sepertinya banyak orang yang membuat cracking itu semakin banyak dalam berbagai cara.

Setelah pagi itu, setiap kali meeting dan mendapat teh hangat saya selalu memperhatikan bagian dalam cangkirnya. Sepertinya hingga hari ini saya belum pernah mendapatkan lagi si cangkir penuh retakan itu. Mungkin gelas itu sudah pecah. Entahlah.


Posting ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami,Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2021 minggu ke-1 bertemakan Glass agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali.

Uncategorized

Hanya Mimpi, Kan?

Kemarin siang akhirnya aku bisa tidur nyenyak berjam-jam setelah hampir tiga minggu ini tak bisa lelap. Hebatnya dalam tidur yang sangat nyenyak itu aku bermimpi. Tentang kamu.

Beberapa bulan terakhir kupikir aku sudah move on ketika kamu sudah tidak lagi menjadi fokus hidupku. Kala rindu tentangmu sudah tak mewarnai hidupku lagi dan chat-chat singkat kita sudah tak membuat jantungku berdebar lagi.

Aku baru saja akan menyingkirkan fotomu dari atas meja kerjaku. Kupikir aku ingin mengganti suasana kerja di tahun yang baru. Aku berencana menggantinya dengan bunga matahari rajutan yang tengah tersenyum. Aku yakin ada atau tak ada foto itu tak akan mengubah kualitas hariku. Tak bisa mengubah kemuraman menjadi senyuman.

Ternyata aku salah.

Kemarin siang aku justru bermimpi tentangmu. Kamu yang tengah berkemas karena hendak pindah. Katamu : “Ke Australia”. Hampir enam tahun lalu kamu pernah bilang ingin sekali kesana. Sudah begitu lama hingga akupun telah lupa.

Mimpi tentangmu selalu mengganggu. Selalu membuatku mencari tahu. Dan akhirnya aku tak jadi menyingkirkan fotomu dari mejaku, namun menyandingkannya dengan si bunga matahari.

Just the thought of you
Just the sight of you
Or just the sound of your voice
Made me feel joy in those days

I bet you don’t even remember
And I have no idea where you are now
But just saying your name to myself
Made me shed tears in those days

If I must, I hope I can forget
So that I can break up with worthless pain
If I must, I hope I can forget
The you that will never come back to me

Just the thought of you
Just the sight of you
Or just the sound of your voice
Made me feel joy in those days

Just because I loved you that much
Just because I had to suffer that much
I have to stay silent in the memories
Of those days I can never look back on again

If I must, I hope I can forget
So that I can break up with worthless pain
If I must, I hope I can forget
The you that will never come back to me

If I must, I hope I can forget
So that I can break up with worthless pain
If I must, I hope I can forget
The you that will never come back to me

Just the thought of you
Just the sight of you
Or just the sound of your voice

(Kim Kwang Seok – Those Days)

Uncategorized

[Satu Foto Sejuta Cerita] Bertumbuh dalam Diam

Beberapa jam sebelum tahun 2020 berganti menjadi 2021, saya tiba di rumah yang sudah mirip kapal pecah setelah delapan hari ditinggal jaga di rumah sakit. Ada tumpukan baju yang harus dicuci, lantai kotor yang mesti disapu dan dipel, ada cucian piring yang harus dituntaskan, dan sampah-sampah yang mesti dikeluarkan. Saya masih bersyukur karena pohon-pohon yang tak disirami masih segar bugar.

Malam itu, empat menit sebelum tahun 2021 saya baru bisa duduk tenang menonton para penyiar TV melaporkan malam pergantian tahun dimana-mana.

Esok paginya, ketika saya mungurai selang untuk menyiram tanaman, saya dibuat terpana oleh mereka yang juga sibuk meski tanpa suara.

Yang paling surprise, saya menemukan kuncup bunga wijaya kusuma yang siap mekar. Sayangnya malam itu saya harus kembali meninggalkan rumah dan tak bisa menyaksikannya mekar. Ketika saya kembali, bunganya sudah layu dan jatuh ke tanah.

Ah, ternyata tak hanya saya sendiri yang hectic, tanaman-tanaman ini juga begitu produktif dan menghasilkan bunga-bunga yang cantik.


Posting ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami,Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-51 bertemakan Hectic agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali.